Minggu, 05 Mei 2013

Mnulis SD







KETERAMPILAN MENULIS DI SEKOLAH DASAR








Disampai pada Bimtek Guru SD Kelas V dan IV Se-Provinsi Jambi
Tanggal 18 S.D. 22 Februari 20013 di LPMP Jambi








KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK  DAN TENAGA KEPENDIDIKAN BAHASA
20013
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI    1
KETERAMPILAN MENULIS    1
I. PENDAHULUAN    1
A. Latar Belakang    1
B. Tujuan Pembelajaran Menulis dan Tujuan Menulis    3
C. Ruang  Lingkup Pengajaran Menulis dalam Standar Isi  Sekolah Dasar    5
II. HAKIKAT KETERAMPILAN  DAN PEMBELAJARAN MENULIS    9
A. Hakikat Keterampilan Menulis    9
B. Pembelajaran Menulis di Madrasah Ibtidaiyah    11
C. Metode, Media Pembelajaran dan Penilaian Pembelajaran Menulis    17
III. PENUTUP    20
DAFTAR PUSTAKA    23










KETERAMPILAN MENULIS

 I. PENDAHULUAN
 A. Latar Belakang
Keterampilan menulis oleh para ahli pengajaran bahasa ditempatkan  pada tataran  paling  tinggi  dalam proses  pemerolehan  bahasa.  Hal ini disebabkan  keterampilan menulis merupakan keterampilan produktif yang hanya dapat diperoleh sesudah keterampilan menyimak, berbicara, dan membaca.  Hal ini pula yang menyebabkan keterampilan menulis merupakan keterampilan berbahasa yang dianggap paling sulit. 
Meskipun keterampilan menulis itu sulit, namun  peranannya dalam kehidupan manusia sangat penting dalam masyarakat sepanjang zaman. Kegiatan menulis  dapat  ditemukan dalam  aktivitas  manusia  setiap hari, seperti menulis surat, laporan, buku, artikel, dan sebagainya. Dapat dikatakan, bahwa  kehidupan menusia hampir tidak bisa dipisahkan  dari kegiatan menulis.
Peranan menulis yang cukup tinggi  sejalan dengan pendapat Tompkins (1988:12) seorang ahli keterampilan berbahasa yang menyatakan bahwa masyarakat yang tidak mampu mengekspresikan  pikiran dalam bentuk tulisan, akan tertinggal jauh dari kemajuan karena kegiatan menulis dapat mendorong perkembangan intelektual seseorang sehingga mampu berpikir kritis. Hal senada diungkapkan oleh Tarigan (1992:44) bahwa indikasi kemajuan suatu bangsa dapat dilihat maju-tidaknya komunikasi tulis bangsa itu.
Kenyataan di atas mengharuskan pengajaran menulis digalakkan sedini mungkin. Tidak mengherankan jika dalam kurikulum 1994 mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, pengajaran menulis menjadi aspek pembelajaran bahasa Indonesia yang mendapat porsi lebih besar daripada keterampilan bebahasa lainnya. Hal ini terlihat pada banyaknya porsi kegiatan keterampilan menulis dalam pembelajaran bahasa Indonesai SD, SLTP, dan SD, yakni sekitar 72,2%.
Akan tetapi, disayangkan, kenyataan dewasa ini pembelajaran menulis termasuk di SD/MI  belum  menggembirakan.  Banyak penelitian  yang  mengungkapkan  bahwa  kemampuan  menulis siswa  masih sangat rendah.   Dian  (Kompas, 24 Sepetember 2001 ) mengemukakan bahwa  banyak siswa  gagal dalam menulis karena metode menulis kurang efektif. Sejalan dengan itu, Taufik Ismail, (Mimbar Karya: II, 1999) menilai  bahwa pengajaran menulis  dewasa  ini  sangat terlantar.  
Uraian  di atas  mengisyaratkan, bahwa  dewasa ini  dibutuhkan   pembena serius dalam pengajaran  menulis, meskipun  dipahami bahwa  banyak faktor yang mempengaruhi ketidakmampuan  siswa dalam menulis. Namun,  diakui bahwa peranan guru  sangat menentukan. Oleh karena itu, guru dituntut  untuk kreatif dan inovatif serta memiliki kemampuan yang memadai dalam merancang  pembelajaran  menulis, terutama menyangkut teknik dan strategi  yang digunakan.  
Kenyataannya, dewasa ini pendekatan yang digunakan dalam pengajaran keterampilan menulis yang banyak diterapkan di sekolah  adalah pendekatan tradisional yakni mengajar siswa menulis secara langsung dengan memberikan judul, tema, atau topik tertentu. Siswa disuruh mengembangkan kerangka, dan sebagainya dengan penekanan pada hasil tulisan.  Strategi semacam ini menjadi kendala bagi pengembangan keterampilan menulis siswa.  Hal tersebut diakibatkan karena siswa tidak terbiasa mengkaji secara langsung permasalahan  yang  hendak ditulis. Akibatnya, siswa terbentur dalam menuliskan materi  yang ada dalam pikirannya. Padahal, pada hakikatnya, kemampuan menulis siswa sangat bergantung kepada penguasaan hal yang hendak ditulis.
     Berdasarkan uraian di atas, maka guru  harus  kreatif dalam memilih strategi pembelajaran menulis, tidak terpaku dengan minimnya waktu yang disediakan  tuntutan  target kurikulum  yang  bersifat tidak tuntas.  Akan tetapi, harus   sejalan dengan tujuan  pembelajaran menulis, yaitu agar siswa
 terampil mengkomunikasikan idenya secara tertulis melalui suatu proses menyeluruh yang bermakna, yang tentunya membutuhkan suatu proses latihan yang memadai dan kontinyu.



B. Tujuan Pembelajaran Menulis dan Tujuan Menulis
     1. Tujuan Pembelajaran Menulis
Tujuan pengajaran setiap mata pelajaran dapat diklasifikasikan atas tiga aspek seperti yang diutarakan Bloom, yakni kognitif, skills, dan efektif. Kerena karateristik setiap mata pelajaran berbeda-beda, maka titik berat tujuan mata pelajaran itu pun dapat berbeda-beda pula. Mata pelajaran bahasa Indonesia misalnya dapat menitik beratkan pada keterampilan tanpa mengabaikan segi kognitif dan a.fektifnya.
Dengan  kurikulum nasional  ini diharapkan; (1) siswa dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya dan hasil intelektual bangsaa sendiri, (2) guru dapat memusatkan perhatian pada pengembangan kompetensi bahasa siswa dengan menyediakan keragaman kegiatan berbahasa dan sumber belajar, (3) guru lebih mendiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan siswanya, (4) orang tua  dan masayarakat terlibat secara aktif dalam pelaksanaan program di sekolah, (5) sekolah dapat menyusun program pendidikan sesuai dengan keadaan siswa dan sumber belajar yang tersedia, dan, (5) daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah.
Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi,  kompetensi bahan kajian menulis adalah “Menulis Secara Efektif Berbagai Jenis Karangan dalam Berbagai Konteks.” Standar kompetensi yang harus dimiliki ialah mempu mengekspresikan berbagai pikiran, gagasan, pendapat, dan perasaan dalam berbagai ragam tulisan. 
     2. Tujuan Menulis
    Seorang tergerak menulis karena memiliki tujuan-tujuan yang bisa dipertanggungjawabkan di hadapan publik pembacanya, karena tulisan pada dasarnya adalah sarana untuk menyampaikan pendapat atau gagasan agar dapat dipahami dan diterima orang lain. Tulisan dengan demikian menjadi salah satu sarana berkomunikasi yang cukup efektif dan efesien untuk menjangkau khalayak masa yang luas. Atas dasar pemikiran inilah, maka tujuan menulis dapat dirunut dari tujuan-tujuan komunikasi yang cukup mendasar dalam konteks pengembangan peradapan dan kebudayaan mesyarakat itu sendiri. Adapun tujuan penulisan tersebut adalah sebagai berikut.
1)    Menginformasikan segala sesuatu, baik itu fakta, data maupun peristiwa termasuk pendapat dan pandangan terhadap fakta, data dan peristiwa agar khalayak pembaca memperoleh pengetahuan dan pemahaman baru tentang berbagai hal yangdapat maupun yang terjadi di muka bumi ini.
2)    Membujuk; melalui tulisan seorang penulis mengharapkan pula pembaca dapat menentukan sikap, apakah menyetujui atau mendukung yang dikemukakannya. Penulis harus mampu membujuk dan meyakinkan pembaca dengan menggunakan gaya bahasa yang persuasif. Oleh karena itu, fungsi persuasi dari sebuah tulisan akan dapat menghasilkan apabila penulis mampu menyajikan dengan gaya bahasa yang menarik, akrab, bersahabat, dan mudah dicerna.
3)    Mendidik adalah salah satu tujuan dari komunikasi melalui tulisan. Melalui membaca hasil tulisan wawasan pengetahuan seseorang akan terus bertambah, kecerdasan terus diasah, yang pada akhirnya akan menentukan perilaku seseorang.  Orang-orang yang berpendidikan misalnya, cenderung lebih terbuka dan penuh toleransi, lebih menghargai pendapat orang lain, dan tentu saja cenderung lebih rasional.
4)     Menghibur; fungsi dan tujuan menghibur dalam komunikasi, bukan monopoli media massa, radio, televisi, namun media cetak dapat pula berperan dalam menghibur khalayak pembacanya. Tulisan-tulisan atau bacaan-bacaan “ringan” yang kaya dengan anekdot, cerita dan pengalaman lucu bisa pula menjadi bacaan penglipur lara atau untuk melepaskan ketegangan setelah seharian  sibuk beraktifitas. 

C. Ruang  Lingkup Pengajaran Menulis dalam Standar Isi  Sekolah Dasar
Agar tujuan mengarang dapat tercapai dengan baik, maka diperlukan latihan yang memadai dan secara terus menerus. Selain itu, anak pun harus dibekali dengan pengetahuan dan pengalaman yang akan ditulisnya, karena pada hakikatnya menulis adalah menuangkan sesuatu yang telah ada dalam pikirannnya. Namun demikian, hal yang tidak dapat diabaikan dalam pengajaran mengarang di SD adalah siswa harus mempunyai modal pengatahuan yang cukup tentang  ejaan,  kosakata, dan pengetahuan tentang mengarang itu sendiri.
Dalam Standar Isi  dasar hal yang dikemukakan di atas merupakan sasaran untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, diharapkan agar  anak menguasai hal itu. Maka dalam pembelajaran menulis di SD  harus dimulai dari tahap yang paling sederhana lalu pada hal yang sederhana, ke yang biasa,  hingga pada yang paling sukar. Tentu saja hal ini pula melalui tahapan sesuai dengan tingkat  pemikiran siswa. Oleh  karena itu, pembelajaran menulis dibagi atas dua tahap, yaitu  menulis permulaan dan menulis lanjut.  Menulis permulaan ditujukan kepada siswa kelas rendah yakni kelas satu hingga kelas tiga, sedangkan pembelajaran menulis lanjutan diperuntukkan untuk kelas tinggi yaitu kelas empat hingga kelas enam. Untuk lebih jelasnya berikut diuraikan kedua kelompok tersebut secara ringkas berdasarkan beberapa referensi.
1.    Menulis Permulaan
Dalam pembelajaran menulis permulaan tentu harus dimulai pada hal sangat sederhana. Menulis tentu hanya dengan beberapa kalimat sederhana  bukan suatu karangan yang utuh. Mengajarkan menulis permulaan tentu saja selalu dilakukan dengan pembelajaran terpimpin. Beberapa contoh pembelajaran menulis permulaan seperti berikut. (a) mengarang mengikuti pola dengan cara siswa hanya diminta membuat karangan seperti contoh (pola) yang diberikan yang tentunya idenya harus lebih dekat dengan siswa. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat menuangkan ide/pikiran secara runtut dan logis.
Contoh:      Mangga
               Mangga berbentuk bulat
Isinya kuning
Rasanya manis
Mangga dijual di pasar
Contoh di atas dapat ditiru polanya oleh anak dengan memberi topik lain misalanya, bola, kucing, rumah, dan sebagainya.    Karangan di atas bisa diajarkan pada kelas satu dan dua, setelah siswa lancar dalam menulis kalimat sederhana, (b) mengarang dengan melengkapi kalimat,  yakni siswa diminta untuk melengkapi kalimat dalam karangan dengan kata yang telah tersedia. (c)  Bimbingan dengan memasangkan kelompok kata, yakni siswa diminta untuk memasangkan kelompok kata dengan kalimat yang terpenggal atau kurang lengkap Hal ini bertujuan agar siswa dapat membuat kalimat luas. (d) Bimbingan dengan mengurutkan kalimat, yaitu siswa dibimbing untuk mengurutkan kalimat  sesuai dengan gambar  seri. (e) Bimbingan dengan pertanyaan, hal ini diharapkan agar siswa dapat membuat karangan setelah dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan dalam pikirannnya. Karena sebuah karangan jika ditarik kesimpulan sebenar nya merupakan ragkaian jawaban atas berbagai pertanyaan.  Dalam hal ini guru hanya menyiapkan beberapa pertanyaan, misalanya; Kucingku, apa nama kucingmu, apa warnanya, apakah kamu menyukai, apa makanannnya, kapan memberi makan, lucukah, mengapa lucu, dsb.
Demikian beberapa contoh mengarang permulaan, yang pada dasarnya merupakan upaya membentuk kebiasaan siswa mengarang secara sederhana sesuai tingkat perkembangan kemampuannya. Adapun untuk pembahasan yang lebih rinci materi menulis permulaan akan dibahas pada mata tataran tersendiri.
2.    Menulis Lanjutan
 Syarat untuk dapat menulis lanjutan adalah siswa harus terampil  dan menguasai menulis permulaan. Oleh karena itu, pada prinsipnya menulis lanjutan adalah pengembangan menulis permulaan.  Adapun tujuannya adalah   agar siswa dapat membuat karangan secara ajek dan lengkap.  Beberapa metode dalam menulis lanjutan antara lain: (a) Membuat paragraf dengan gambar, yakni siswa diminta untuk membuat paragraf berdasarkan gambar yang telah disediakan. Hal ini dapat diberi kata-kata kunci, sehingga tidak terlalu menyimpang dengan cerita. (b) Mengembangkan paragraf, yakni siswa dilatih untuk mengembangkan sebuah kalimat utama menjadi sebuah paragraf. (c) Menyusun paragraf dari kalimat yang tersedia  (d)  Menghubungkan paragraf dengan paragraf lainnya. (e)  Membuat karangan dengan gambar seri (akan diuraikan tersendiri).(f)Mengarang berdasarkan  kerangka, dan mengarang secara bebas.
Kesemua strategi di atas bukan harga mati melainkan  sangat fleksibel. Hal ini disebabkan karena pembelajaran menulis di MI cakupannya cukup luas.  Adapun ruang lingkup pembelajaran menulis di MI berdasarkan Standar Isi  kelas tinggi (empat sampai dengan enam) sebagai berikut:
a.    Menyusun paragraf berdasarkan  bahan   yang tersedia dengan memperhatikan penggunaan ejaan.
b.    Melengkapi puisi anak  berdasarkan gambar.
c.    Menulis karangan sederhana berdasarkan gambar seri menggunakan pilihan kata dan kalimat yang tepat dengan memperhatikan penggunaan ejaan, huruf kapital, dan tanda titik .
d.    Menyusun  karangan tentang berbagai topik sederhana dengan memperhatikan penggunaan ejaan (huruf besar, tanda titik, tanda koma, dll.)
e.    Menulis pengumuman dengan bahasa yang baik dan benar serta memperhatikan penggunaan ejaan.
f.    Membuat pantun anak yang menarik tentang berbagai tema (persahabatan, ketekunan, kepatuhan, dll.) sesuai dengan ciri-ciri pantun.
g.    Menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan  pilihan kata dan penggunaan ejaan.
h.    Menulis surat undangan (ulang tahun, acara agama, kegiatan sekolah, kenaikan kelas, dll.) dengan kalimat efektif dan memperhatikan penggunaan ejaan.
i.    Menulis dialog sederhana antara dua atau tiga  tokoh dengan memperhatikan isi serta perannya.
j.    Meringkas isi buku  yang dipilih sendiri  dengan memperhatikan penggunaan ejaan.
k.    Menulis laporan pengamatan atau kunjungan berdasarkan tahapan (catatan, konsep awal, perbaikan, final) dengan memperhatikan penggunaan ejaan.
l.    Menulis puisi bebas dengan pilihan kata yang tepat.
m.    Mengisi formulir (pendaftaran, kartu anggota, wesel pos, kartu pos,  daftar riwayat hidup, dll.) dengan benar.
n.    Membuat ringkasan dari teks yang dibaca atau yang didengar.
o.    Menyusun percakapan tentang berbagai topik dengan memperhatikan penggunaan ejaan.
p.    Mengubah puisi ke dalam bentuk prosa dengan tetap memperhatikan makna puisi.
q.    Menyusun naskah pidato/sambutan (perpisahan, ulang tahun, perayaan sekolah, dll.)  dengan bahasa yang baik dan benar, serta  memperhatikan penggunaan ejaan.
r.    Menulis surat resmi dengan memperhatikan pilihan kata sesuai dengan orang yang ditujuan.

II. HAKIKAT KETERAMPILAN  DAN PEMBELAJARAN MENULIS
A. Hakikat Keterampilan Menulis
    Keterampilan menulis dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan banyak berlatih karena keterampilan menulis mencakup penggunaan sejumlah unsur yang kompleks secara serempak. Untuk mengetahui sampai di mana hasil menulis yang telah dicapai, perlu dilakukan tes menulis kepada siswa.
    Menurut Tarigan (1985:3-4) menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang digunakan untuk berkomunikasi tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain, dan merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam menulis orang harus terampil memanfaatkan huruf grafologi, struktur, dan kosakata. Byrne (1988:1) mengemukakan ketika menulis menggunakan simbol yaitu huruf atau kombinasi huruf yang melambangkan  bunyi bahasa. Menulis lebih dari sekadar memproduksi simbol, tetapi simbol itu harus diatur untuk membentuk kata dan harus diatur untuk membentuk kalimat . Kalimat harus menjadi paragraph, dan paragraf harus menjadi sebuah wacana yang utuh dan selesai. Menulis bukan hanya menyusun satu kalimat atau beberapa kalimat yang tidak berhubungan, melainkan juga menghasilkan rangkaian kalimat yang berhubungan satu dengan yang lain dan gaya tertentu. Menulis bukan sesuatu yang diperoleh secara spontan, tetapi memerlukan usaha sadar “menuliskan” kalimat dan mempertimbangkan cara mengkomunikasikan dan mengatur.
    Sejalan  dengan itu menurut Lado, (1964:14) menulis adalah meletakkan simbol grafis yang mewakili bahasa yang dimengerti orang lain jadi, orang lain dapat membaca simbol grafis itu jika mengetahui simbol itu menjadi bagian dari ekspresi bahasa. Sehubungan dengan hal tersebut Semi (1990:8) mengatakan bahwa menulis pada hakikatnya merupakan pemindahan pikiran atau perasaan ke dalam bentuk lambang-lambang bahasa.
Berdasarkan kosep di atas dapat dikatakan bahwa menulis merupakan komunikasi tidak langsung yang berupa pemindahan pikiran atau perasaan dengan memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosakata dengan menggunakan simbol-simbol sehingga dapat dibaca seperti apa yang diwakili oleh simbol tersebut.
          Jones mengemukakan pendapat  dalam menulis diperlukan langkah-langkah yang harus dilalui oleh penulis agar hasil tulisannya lebih efektif, yaitu;
1)    seorang penulis harus mempunyai aturan dalam menulis serta jelas objek tulisannya;
2)    sebelum menulis harus terlebih dahulu menyusun kerangka karangan;
3)    merumuskan tujuan penulisan;
4)    tulisan selalu berfokus pada topik;
5)    untuk memperjelas ide-ide yang abstrak gunakan contoh;
6)    gunakan kata atau kalimat yang tepat dan jelas;
7)    hindari bias gender, serta penggunaan orang pertama yang berlebihan.
Langkah penulisan di atas perlu diperhatikan oleh seorang penulis agar hasil tulisannya lebih efektif karena dalam karangan  ada lima unsur yang dimiliki karangan tersebut, yaitu.
1)    isi karangan: hal atau gagasan yang dikemukakan;
2)    bentuk karangan: susunan atau cara menyajikan isi ke dalam pola kalimat;
3)    tata bahasa: penggunaan tata bahasa dan pola kalimat yang tepat;
4)    gaya: pilihan struktur dan kosakata untuk memberikan nada atau warna terhadap karangan;
5)    penggunaan ejaan dan tanda baca.
     

B. Pembelajaran Menulis di Madrasah Ibtidaiyah
    1. Memilih dan Menetapkan Topik
    Menulis merupakan suatu proses kreatif. Oleh karena itu suatu proses kreatif harus mengalami suatu proses yang secara sadar dilalui dan secara sadar pula dilihat hubungan satu dengan yang lain. Sehingga berakhir pada suatu tujuan yang jelas. Memilih  dan menetapkan topik merupakan suatu langkah awal yang penting, sebab tidak ada tulisan, jika tidak ada suatu yang hendak ditulis. Di dalam memilih dan menetapkan topik ini diperlukan pula adanya keterampilan dan kesungguhan.  Topik tulisan adalah masalah atau gagasan yang hendak disampaikan di dalam tulisan atau gagasan diperoleh. Gagasan adalah pesan dalam dunia batin seseorang yang hendak disampaikan kepada orang lain, berupa pengetahuan, pengamatan, pendapat, renungan, pendirian, keinginan, perasaan, emosi, dan sebagainya (A. Widyamartaya, 1990: 9). Penuangan gagasan dalam konteks ini yaitu memberi bentuk kepada segala sesuatu yang dipikirkan dan dirasakan tersebut, berupa rangkaian kata yang disusun secara sistematis, sehingga mudah dipahami oleh orang lain. Menuangkan gagasan adalah menyusun tulisan.
    Kebanyakan penulis kebingungan harus mulai dari mana. Akibatnya, ketika mereka mulai menulis, mereka mulai dari topik yang belum sampai kepada inti permasalahan, seperti terlalu luas, terlalu sempit, atau samar-samar. Salah satu azas dalam mengembangkan gagasan adalah tidak keluar dari gagasan inti, yaitu dengan membuang unsur-unsur atau bagian-bagian yang tidak perlu, yang tidak ada kaitannya langsung dengan isi gagasan (Marahimin, 1994; Creswell, 2003). Oleh karena itu, untuk membantu penulis, penting untuk membuat kerangka tulisan, semacam sketsa isu-isu yang akan dibahas dalam tulisan (Nicholas, 1994: 9; Parni Hadi, 2005: 38). Paling tidak, ada bagian pendahuluan, bagian isi, dan bagian penutup. Dalam tahap ini, penulis sebaiknya bisa mengira-ngira isi di setiap bagian, dan menjadi daftar isi sementara atau sebagai draft awal.
    Gagasan utama yang dikembangkan dalam bagian-bagian yang lebih kecil tadi diikat oleh keterpaduan yang biasanya ditandai dengan kohesi dan koherensi. Kohesi merupakan keserasian hubungan antar unsur bahasa dalam wacana, seperti antar kalimat dan paragraf. Sementara yang dimaksud dengan koherensi adalah kesatuan makna yang masuk akal. Bagian demi bagian dalam kerangka disusun secara runtut, sistematis dan logis, tidak melompat-lompat, misalnya ketika sedang membicarakan gagasan pertama langsung berpindah ke gagasan ke-empat, dan kembali lagi ke gagasan ke-dua. Susunan tersebut akan membuat pembaca bingung, sebab gagasan utama menjadi kabur.
    Gagasan utama yang dipilih oleh penulis bisa jadi memiliki ruang lingkup yang masih luas atau malah terlalu sempit. Gagasan atau topik utama umumnya memiliki ciri: mengandung permasalahan yang potensial untuk dirinci atau diuraikan lebih lanjut, merupakan kalimat lengkap yang dapat berdiri sendiri, dan dapat dibentuk tanpa bantuan konjugasi atau frasa transisi. Sedangkan ciri gagasan penjelas adalah: umumnya berupa kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri dan baru jelas jika dihubungkan dengan kalimat lain dalam paragraf, pembentukannya sering memerlukan konjugasi atau frasa transisi, isinya berupa perincian, contoh, dan data tambahan lain yang bersifat penjelas atau pendukung.
Untuk memperoleh pengembangan gagasan yang baik dan terarah, sebaiknya perlu dilakukan pengembangan yang sistematis. Cara tersebut adalah dengan mengembangbiakkan gagasan utama ke dalam topik-topik yang terkait (A. Widyamartaya, 1990: 16-19). Adapun gagasan tersebut dapat digali melalui empat sumber.
            a. Pengalaman
    Pengalaman-pengalaman tertentu ada yang menarik atau dianggap penting patut diketahui orang lain. Dengan begitu, apa yang pernah kita pilih adalah pengalaman yang unik dan dapat dijadikan bahan pemikiran dan tambahan pengetahuan bagi pembaca.
           b. Pengamatan
    Banyak hal dalam kehidupan  sehari-hari  yang kita alami langsung misalnya; peristiwa kecelakaan, kebakaran, pembunuhan, perampokan dan lain sebagainya, atau secara tidak langsung yang diperoleh lewat mass media seperti surat kabar, majalah, televisi atau melalui buku-buku.
    c. Imajinasi
    Kita mempunyai kemampuan berimajinasi, kemampuan membayangkan atau menghayalkan sesuatu. Misalnya; Anda belum pernah mengalami tidak punya uang untuk makan tetapi Anda dapat membayangkan menjadi orang yang tidak mempunyai uang untuk makan.
    Imajinasi biasanya bertolak dalam pengalaman hidup atau pengalaman rohaniah, dan didukung oleh hasil simakan dan bacaan. Pengalaman merupakan titik tolak dalam mengimajinasikan sesuatu. Hasil imajinasi itu tentu saja dapat dijadikan bahan atau topik tulisan, terutama tulisan yang bersifat fiksi.
    c. Pendapat dan Keyakinan
    Setiap orang mempunyai pendapat tentang sesuatu, seperti pendapat tentang teman sekantor, hasil karya seseorang, suatu pekerjaan. Di samping itu Anda juga punya suatu keyakinan suatu berita, keyakinan kebenaran pendapat diri sendiri, dan lain sebagainya. Pendapat dan keyakinan ini dapat diutarakan atau dijadikan topik tulisan.
Di bawah ini dicantumkan contoh gagasan diagram  pohon.

                                           
                                                                  Gagasan Penjelas

   





Untuk menghasilkan tulisan, penulis harus memilikii sejumlah pengetahuan dan keterampilan (walaupun untuk menulis sebuah karangan sederhana) seperti dalam memilih topik, membatasinya, mengembangkan gagasan, menyajikan gagasan ke dalam kalimat dan paragraf yang tersusun secara logis. Sehubungan dengan proses menulis, Hadiyanto (2000: 22)  mengibaratkan menulis dengan sebuah gedung yang membuat rancangan terlebih dahulu sebelum melaksanakan bangunan. Begitu juga dengan menulis seorang penulis membuat kerangka karangan terlebih dahulu untuk menghasilkan tulisan yang baik. Untuk membangun tulisan secara utuh, tidak boleh mengabaikan dasar-dasar penulisan yaitu paragraf. Dengan memahami makna dan ciri-ciri paragraf yang baik, penulis akan lebih mampu menuangkan gagasan dan pikiran secara lebih runtun, sistematis, dan teratur.
       2. Paragraf Dalam Tulisan                              
    Paragraf merupakan sarana menuangkan gagasan dengan arti kata segala sesuatu yang kita rasakan, berupa rangkaian kata, yang tersusun dengan sebaik-baiknya dalam bentuk paragraf sehingga gagasan kita dapat dipahami dengan mudah.
    Menuangkan gagasan secara tertulis dapat kita analogikan dengan merangkai karangan bunga atau membingkiskan kado untuk orang lain. Karangan bunga atau bingkisan kado mewujudkan suatu gagasan, bingkisan gagasan itu harus merupakan karangan yang jadi utuh dan lengkap.
    Paragraf pada dasarnya adalah miniatur sebuah karangan. Kalau sebuah karangan mempunyai tujuan yang dinyatakan dalam tesis, paragraph mempunyai tujuan yang dinyatakan dalam kalimat topik. Seperti halnya sebuah karangan yang utuh, paragraf  juga harus mempunyai struktur yang jelas. Kalau karangan dikembangkan oleh uraian yang memadai, gagasan utama yang terkandung dalam setiap paragraf juga harus terurai tuntas. Dengan kata lain, proses pembuatan paragraf pun tidak jelas berbeda dengan proses pembuatan sebuah karangan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa paragraf mempunyai gagasan utama yang dituangkan dalam bentuk kalimat topik. Bagi penulis gagasan utama merupakan pengendali isi paragraf. Gagasan utama haruslah ada dalam setiap paragraf yang baik.Tidak demikian halnya dengan kalimat topik meskipun memuat gagasan utama, hal ini tidak berarti bahwa kalimat topik harus ada dalam setiap paragraf. Dengan kata lain, tidak semua gagasan utama perlu dituangkan dalam kalimat topik untuk lebih jelasnya lihat contoh di bawah ini.  
       Pukul 5 pagi biasanya ia sudah bangun tidur. Setelah menggosok gigi dan mencuci muka. Ia berlari-lari di tempat sambil menggerak-gerakkan seluruh anggota badannya sebentar kemudian mandi dengan air hangat yang telah disiapkan ibunya. Sambil masih mengunyah roti bakar sarapannya , ia mulai menggoyang-goyang membangunkan saya dan minta jajan. Ia akan terus begitu sebelum beberapa lembar ribuan saya ulurkan. “Terima Kasih”, katanya sambil berjingkat-jingkat meninggalkan kamar dan berangkat sekolah (Pusat Bahasa. 2001: 2)

a. Ciri Paragraf yang Baik
Sekurang-kurangnya ada lima ciri paragraf yang baik. Kelima ciri ini adalah kesatuan , Kepaduan, ketuntasan, konsistensi sudut pandang, dan keruntunan. Paragraf dapat dikatakan baik apabila kelima ciri itu secara keseluruhan terdapat di dalamnya.
               1) Kesatuan
Paragraf yang baik haruslah memiliki  satu gagasan  utama. Artinya, dalam paragraf mungkin terdapat beberapa gagasan tambahan, tetapi gagasan-gagasan itu harus terfokus pada satu gagasan utama sebagai pengendali. Jika prinsip ini dipenuhi, paragraf itu telah memenuhi ciri kasatuan.
Kesatuan dalam sebuah paragraf hanya akan terbentuk apabila informasi-informasi dalam paragraf itu tetap dikendalikan oleh gagasan utama. Agar hal ini dapat dicapai, penulis harus senantiasa mengevaluasi apakah kalimat-kalimat yang ditulisnya itu erat hubungannya, apakah kalimat-kalimat itu harus dihilangkan atau disajikan secara khusus, misalnya menjadi sisipan dalam kalimat lain. Perhatian paragraf berikut ini.
                                                       MBAH MARTO
                        Mbah Marto-lengkapnya Martopuro-tidak tahu banyak tentang desa kelahirannya. Ia tidak tahu-menahu mengapa desanya itu dinamai Desa Kedunggalar. Ia tidak tahu-menahu mengapa Sangkunurip (satu-satunya sungai yang melintasi desa itu) kini mongering. Ia juga tidak tahu mengapa nenek moyangnya dahulu sampai di desa itu.
               Meskipun sudah uzur, dengan tubuh kurus dan kulit wajah keriput, Mbah Marto masih gesit dan cekatan. Begitu bangun pagi, tanpa harus minum kopi dahulu, ia sudah memanggul pungkur menuju ladangnya. Ia terus mengayun pangkurnya membongkar tanah liat yang sudah mengeras oleh musin kemarau yang panjang.

              2) Kepaduan
Paragraf  dapat dikatakan baik tidak saja karena gagasan utamanya tunggal, tetapi juga karena kalimat-kalimat di dalam paragraf itu terjalin secara logis dan gramatikal. Dengan demikian, kalimat-kalimat di dalam sebuah paragraf  itu terpadu, berkaitan satu sama lain, untuk mendukung gagasan utama. Dengan kaitan seperti itu, pembaca akan dapat mengikuti maaksud penulis setapak demi setapak dengan perpindahan dari satu kalimat ke kalimat berikutnya secara enak tanpa ada lompatan-lompatan pikiran. Boleh jadi sebuah paragraf  sudah memenuhi syarat kesatuan, tetapi belum dapat disebut sebagai paragraf  yang baik apabila belum memenuhi syarat kepaduan ini.
    Untuk membangun kepaduan paragraf, dapat digunakan kata kunci dan sinonim, pronominal, kata transisi, dan struktur yang paralel.              
               3) Ketuntasan
    Paragraf yang baik adalah paragraf  yang tuntas. Artinya, di dalam paragraf itu telah tercakup semua yang diperlukan untuk mendukung gagasan utama. Ini berarti pula bahwa yang baik harus telah dikembangkan demikian rupa sehingga pembaca tidak bertanya-tanya tentang maksud penulis dalam paragraf itu.
    Seberapa jauh ketuntasan pengembangan paragraf itu?. Bisa jadi sebuah paragraf amat panjang tetapi belum tuntas, bisa jadi pula paragraf itu cukup pendek tetapi sudah tuntas. Yang penting adalah bahwa setelah membaca paragraf itu, pembaca mendapat informasi yang lengkap tentang isi paragraf itu. Ingatlah bahwa yang penting di dalam paragraf adalah adanya gagasan utama yang biasanya dinyatakan dalam kalimat topik. Perhatikan contoh berikut ini.
         Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mencegah penyebaran demam berdarah. Salah satu cara adalah memberantas tempat berkembang biak nyamuk deman berdarah. Seperti kita ketahui bersama, nyamuk deman berdarah biasanya berkembang biak di air yang menggenang. Oleh karena itu, benda-benda yang dapat menampung air harus dikubur dalam tanah, bak-bak penampungan air harus ditutup rapat, dan selokan-selokan yang mampat harus dialirkan. Dengan demikian, nyamuk-nyamuk itu tidak akan mempunyai sarang untuk berkembang biak.
    4) Keruntutan
Urutan penyajian informasi dalam paragraf yang baik mengikurti tata urutan tertentu. Ada berapa model   urutan penyajian informasi dalam pargaraf dan tiap-tiap paragraf dan tiap-tiap model mempunyai kelebihan masing-masing. Model-model urutan itu adalah urutan waktu, urutan tempat, urutan umum-khusus, urutan khusus-umum, urutan pertanyaan-jawaban, dan urutan sebab-akibat. Masing-masing model urutan akan dibicarakan secara rinci dalam bagian yang membicarakan jenis-jenis dan pengembangan paragraf. Untuk menjelaskan keruntutan ini, pada bagian ini hanya dicontohkan dua keruntutat saja, yaitu keruntutan atas urutan tempat dan keruntutan atas urutan waktu.
Prinsip keruntutan pada dasarnya adalah menyajikan informasi secara urut, tidak melompat-lompat sehingga pembaca mudah mengikuti jalan pikiran penulis. Untuk paragraf itu yang menggunakan model urutan tempat, misalnya, maka hendaklah informasi tentang objek itu disajikan secara horizontal, seolah-olah pandangan mata penulis bergerak dari kiri ke kekanan, atau sebaliknya atau bisa juga secara vertikal dari bawah ke atas atau sebaliknya. Yang penting adalah bahwa informasi disajikan secara berurut berdasarkan dimensi ruang. Perhatikan urutan penyajian informasi yang berdimensi ruang dalam paragraf berikut.
Mula-mula pukul enam tiga puluh ketika lalu lintas mulai padat kira belasan pemuda dari Kampung Mekar Jaya berkumpul di rumah pagar itu. Sesaat kemudian datanglah warga sekitar pabrik itu dari segala penjuru kampung dengan membawa kain rentang berisi slogan bernada protes. Puncaknya kira-kira pukul sembilan lima belas ketika polisi datang ke tempat itu dan berusaha menenangkan para pendemo akan tetapi, tanpaknya mereka jusru merasa diancam oleh campur tangan polisi itu. Kemarahan mereka memuncak hingga kira-kira pukul sepuluh tiga lima mereka mulai melemparkan bon molotov ke pabrik itu.

Pada contoh di atas keruntunan ditandai oleh kata-kata seperti mula-kula, pukul 6.30, sesaat kemudia, kira-kira 9.15, dan kira-kira pukul 10.35. Urutan waktu kejadian tentang sejak pukul 6.30 hingga 10.30.

C. Metode, Media Pembelajaran dan Penilaian Pembelajaran Menulis
          1. Metode Pembelajaran Menulis
Metode pembelajaran menulis hendaknya memperhatikan bahwa bahasa itu merupakan satu keutuhan sesuai dengan fungsinya. Oleh karena itu pembelajaran menulis itu dapat dilakukan secara terpadu, tidak perlu dilakukan terpisah dengan metode dan kegiatan yang berbeda. Misalnya, pada metode inkuiri waktu diskusi berlangsung ada siswa yang bertugas mencatat semua keputusan diskusi. Pada diri pencatat terdapat keterpaduan antara kegiatan menyimak dan menulis. Kegiatan itu sebenarnya tidak hanya berlaku pada pencatat, tetapi juga berlaku pada semua peserta diskusi. Hasil catatan itu dirangkum menjadi laporan diskusi. Dengan demikian kegiatan diskusi yang disertai laporan tertulis akan melatih siswa terampil menyimak dan menulis. Melalui kegiatan itu siswa sekaligus mengenal perbedaan ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis karenan dalam penyusunan laporan tertulis bahasa yang digunakan berbeda dari apa yang didengar dalam diskusi yang menggunakan ragam bahasa lisan.

2. Media Pembelajaran
    Media pembelajaran memegang peranan penting dalam usaha meningkatkan hasil belajar. Tampaknya masih sedikit guru yang mempergunakan media dalam mengajarkan menulis. Sebaiknya guru mempersiapkan berbagai macam media yang dapat dipergunakan untuk menggairahkan pembelajaran menulis.
    Berbagai bentuk pemakaian bahasa dapat dijadikan media pembelajaran menulis. Misalnya, ketika akan belajar menulis surat pribadi, guru dapat membawakan beberapa contoh surat pribadi atau siswa disuruh membawanya. Guru dapat mendiskusikan dengan siswa segi isi, bentuk dan bahasanya. 
    Guru dapat juga menugaskan siswa membawa gambar-gambar yang disukai siswa kemudian guru menugaskan siswa untuk menceritakan isi gambar tersebut dan menulisnya dibuku tentang gambar itu.  Sesuai dengan kurikulum 2004 guru dapat juga menugaskan siswa saling menilai hasil tulisannya, dengan memberikan penjelasan segi mana yang akan dikoreksi siswa. Hal ini akan memberikan pengalaman siswa bagaimana cara menilai sehingga siswa akan juga dapat menilai hasil pekerjaannya sendiri.
          3. Penilaian  Pembelajaran
     Keberhasilan belajar dan mengajar bergantung pada keyakinan kita tentang    faktor-faktor pendukung terjadinya pembelajarn yang efesien. Beberapa faktor mengajar yang perlu diperhatikan supaya proses belajar berlangsung baik antara lain:
1)    Kesempatan untuk belajar, kegiatan pembelajaran perlu menjamin pengalaman siswa untuk secara langsung mengamati dan mengalami   proses, produk, keterampilan, dan nilai yang diharapkan.
2)    Pengetahuan awal siswa, kegiatan belajar perlu mengaitkan dengan pengetahuan awal siswa, keterampilan dan nilai yang dimiliki sambil memperluas dan menunjukkan keterbukaan pada cara pandang dan cara tindakan sehari-hari.
3)    Refleksi, kegiatan mengajar perlu menyediakan pengalaman belajar bermakna yang mampu mendorong tindakan (aksi) dan renungan (refleksi) pada siswa.
4)    Motivasi, kegiatan mengajar harus perlu menyediakan pengalaman belajar yang memberi motivasi   dan kejelasan tujuan.
5)    Keragaman individu, kegiatan mengajar perlu menyediakan pengalaman belajar yang mempertimbangkan perbedaan individu.
6)    Kemandirian dan kerja sama, kegiatan mengajar perlu menyediakan pengalaman belajar yang mendorong siswa untuk belajar secara mendiri maupun melalui kerjasama.
7)    Suasana yang mendukung, sekolah dan kelas perlu diatur lebih aman dan lebih kondusif untuk menciptakan situasi supaya siswa belajar lebih efektif.
8)    Belajar untuk kebersamaan, kegiatan mengajar menyediakan pengalaman belajar yang mendorong siswa untuk memiliki simpati, empati, dan toleransi pada orang lain.
9)    Siswa sebagai pembangun gagasan, kegiatan mengajar menyediakan pengalaman belajar yang mengkomodasi pandangan bahwa pembangunan gagasan adalah siswa sedangkan guru hanya sebagai penyedia kondisi supaya perestiwa belajar berlangsung.
10)    Rasa ingin tahu, kreatifitas, dan ketuhanan, kegiatan mengajar  menyediakan pangalaman yang memupuk rasa ingin tahu, mendorong kreativitas dan selalu mengagumkan kebesaran Yang Maha Esa.
11)    Menyenangkan, kegiatan mengajar perlu menyediakan pengalaman    belajar yang menyenangkan siswa.
12)    Interaksi dan Komunikasi, kegiatan mengajar perlu menyediakan pengalaman belajar yang meyakinkan siswa terlibat secara aktif secara mental, fisik, dan social.
13)    Belajar dan Cara Belajar, kegiatan mengajar  perlu menyediakan pengalaman belajar yang memuat keterampilan belajar sehingga siswa terampil belajar bagaimana belajar (learn how to learn).
 Penilaian berbasis kelas (BPK) merupakan penilaian yang dilakukak terpadu dengan kegiatan belajar mengajar di kelas (berbasis kelas) melalui pengumpulkan  kerja siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja (performen) dan tes tertulis (paper and pen)

 III. PENUTUP
        Terampilan menulis sulit dikuasai, namun peranannya dalam kehidupan manusia sangat penting. Kegiatan menulis dapat ditemukan dalam aktivitas manusia setiap hari, seperti menulis surat, laporan, buku, artikel, dan sebagainya. Dapat dikatakan kehidupan manusia hampir tidak bisa dipisahkan dengan kegiatan menulis.
        Dalam kegiatan menulis dibiasakan siswa mengkaji secara langsung permasalahan yang hendak ditulis sesuai dengan yang ada dalam pikirannya. Karena kemampuan menulis tergantung kepada penguasaan hal yang hendak ditulis.
        Agar tujaun pembelajaran menulis tercapai maka diperlukan latihan yang memadai dan secara terus menerus. Selain itu, anak harus dibekali dengan pengetahuan dan pengalaman yang akan ditulisnya, karena pada hakikatnya menulis adalah menuangkan sesuatu yang ada dalam pikirannya. Maka dalam pembelajaran menulis/mengarang di sekolah dasar harus dimulai dari tahap yang paling sederhana, ke yang biasa, sehingga pada yang paling sukar. Hal ini melalui tahapan sesuai dengan tingkat pemikiran siswa. Oleh karena itu, di sekolah dasar pembelajaran menulis/mengarang dibagi atas dua tahap, yaitu menulis permulaan dan menulis lanjut. Metode pembelajaran menulis hendaknya memperhatikan bahwa bahasa itu merupakan satu kesatuan dengan fungsinya. Pembelajaran menulis itu dapat dilakukan secara terpadu. Misalnya, pada waktu diskusi berlangsung ada siswa yang bertugas mencatat semua keputusan diskusi.
        Adapun media pembelajaran memegang peranan dalam usaha meningkatakan hasil belajar. Tampaknya masih sedikit guru yang mempergunakan media dalam mengajarkan menulis. Sebaiknya guru mempersiapkan berbagai macam media yang dapat sipergunakan untuk menggairahkan pembelajar menulis.
        Penilain pembelajar, penilain berbasis kelas (BPK) merupakan penilaian yang dilakukan terpadu dengan kegiatan belajar mengajar di kelas (berbasis kelas) melalui pengumpulan kerja siswa (fortofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kionerja (performen), dan tes tertulis (paper and pen). Hal ini sebaiknya diperhatikan dalam pempbelajaran agar tujuan pembelajaran dapat berhasil sesuai dengan yang sudah digariskan dalam kurikulum berbasis kelas.
    Agar Anda lebih baik dalam pembelajaran menulis, sebaiknya Anda lebih banyak membaca buku untuk menimba pengetahuan bagaimana cara menulis yang baik. Karena membaca dan menulis sangat dekat hubungannya untuk terampil menulis. Orang yang terampil menulis tidak mungkin tanpa banyak membaca.              




















DAFTAR PUSTAKA

Akhadiat, Sabarti. dkk. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta:IKAPI. 1996.
Byrne, Donn. Theaching Writing Skill. London dan New York: Longman.1988.
Calderonello, Alice Heim dan Bruce I. Edwards Jr. Roughdrafs The Proses Of Writing. Boston: Houghton Mifflin Compony. 1986.
Departeman Pendidikan Nasional. Paragraf. Bahan Penyuluhan Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa. 2001.
_____________ Kurikulum Berbasis Kompetensi. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta: 2003.
Eming, Jonet. The Web Of Meaning. Brynton: Cook Publishers, INC. 1983.
Hairson, Maxine. Succesful Writing. London: WW Norton & Compony. 1982.
Keraf, Gorys. Komposisi. Endeh: Nusa Indah. 1984.
Marahimin, Is
mail. Menulis Secara Populer. Jakarta: Pustaka Jaya. 1999.
Nurgiyantoro, Burhan. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Yogyakarta: BPFE. 1987.
Widyamartaya, A. Seni Menuangkan Gagan. Yogyakarta: Kanisius. 1994
Sampuro, Adi. Menulis. Modul Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi. Jakarta: Direktorat SLTP. 2002.


   







                                        








    
































                       






   

























   

            
        





























            















               





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar